READATHON OKTOBER 2019

Oleh: OCENG RUM KARNODI INFORMASI Diposting Tgl: 26 Sep 2019

 

GoresanTintaUntuk Negeri.

Pengarang : Fani Novita Sari            

            Hal yang selalu terlintas di pikiranku, apakah aku bisa banggakan orang tuaku, banggakan negeriku, banggakan bangsaku dan banggakan tanah airku, walau seperti ini keadaanku?

Aku ingin menjadi anak yang hidup normal seperti teman-teman sebayaku. Menapaki setiap  detik waktu belajarku di sekolah, menoreh prestasi di usia muda, bergaul dengan teman, mampu bersosialisasi di masyarakat, banggakan orang tua bahkan saat nyawa dan tubuhku telah terpisahkan oleh maut, sampai kapanpun juga aku ingin dikenang.

Bukan karena kebodohanku tapi karena prestasiku. Salahkah jika orang yang memiliki  keterbatasan sepertiku berkeinginan mewujudkan hal itu?

Tapi mengapa aku dilahirkan dengan keterbatasan? Bagaimana aku bisa mewujudkan keinginanku jika keadaanku seperti ini ya Allah?

Namaku Rinta Ayu Dewi, orang-orang kerap memanggilku Rinta. Aku bukanlah anak dari seorang menteri yang hidup serba berkecukupan, bukan pula seorang anak dari pengusaha kaya. Ayahku yang hanya seorang satpam di SD dekat rumahku ,bukanlah suatu pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci. Usiaku genap 13 tahun saat 2 hari yang lalu. Kehidupanku sehari hari hanyalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah, juga menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah pertama luar biasa di kotaku.

SMPLB? Ibu dan ayah menyekolahkan ku di sana karena aku mempunyai keterbatasan, tahukah kamu apa keterbatasanku? Aku salah satu anak Indonesia penderita disleksia, sangat jarang memang di Indonesia ada anak yang menderita disleksia. Disleksia adalah kurangnya kemampuan dalam menyerap kalimat, berhitung dan menulis. Pada  saat ini, aku masih belum tahu apa gerangan yang menyebabkanku menderita penyakit itu. Tetapi aku pernah mendengar, saat dokter berbincang dengan ayah dan ibuku, disleksia yang kuderita bukan karena ibu dan ayahku yang terlambat menyekolahkanku, bukan pula karena kemalasanku belajar, tetapi memang karena otakku tak mampu berfikir berat secara cepat.

Di sekolah, aku tak punya banyak teman. Aku mengenali mereka semua, tetapi tak ada yang mau mendekat kepadaku. Hanya Loli yang setiap hari bersamaku di sekolah. Ia juga mengidap disleksia sama sepertiku, tetapi ia juga mengidap kanker hati. Mungkin tak banyak anak yang mau berteman denganku bahkan mereka hanya berbicara sepatah dua patah kata denganku, karena hanya menghabiskan waktu, butuh lebih dari tiga menit untukku menjawab pertanyaan dari mereka. Dan itu sudah pasti tak menyenangkan.

Pernah saat itu, tetangga sebayaku, Anisa, bertanya kepadaku, “Dari tadi aku mencari adikku kemana mana tidak ada. Apakah kau melihatnya?” Anisa kewalahan mencari adiknya, menggerutu tak jelas, mukanya kelihatan sangat sebal.
Aku hanya mendengarkan ucapannya, lalu memandang wajahnya, dan kemudian mencoba mencerna apa yang ia katakan. Tetapi aku masih bingung dengan apa  yang ia katakan. Aku memilih terdiam dan masih mencoba mencerna kalimat yang ia ucapkan.
“Hey Rinta, apa kamu tidak tahu kalau aku lagi kesal? Aku tuh nanya ke kamu. Kalau nggak tahu ya bilang aja! Nggak punya mulut apa gimana sih? Nggak tahu apa orang lagi kesal? Dasar idiot aneh”kata Anisa dengan suara yang keras.
Nampaknya Anisa seperti orang yang sedang marah. Aku jadi semakin bingung. Deretan kata yang ia ucapkan membuat hatiku sakit, walaupun aku tak sepenuhnya faham ucapannya.
Kebingunganku akan ucapan Anisa semakin membuat kepalaku pusing, otakku rasanya sakit.

Aku segera memutuskan untuk berlari masuk kedalam rumah. Terdengar, di luar Anisa berteriak-teriak sembari mengatakanku idiot dan cewek aneh. Hal itu juga berlaku saat aku di sekolah. Saat aku sedang menulis, saat aku sedang berhitung, selalu saja aku merasa kepalaku pusing dan otakku memanas.

Dibalik semua keterbatasanku, aku masih punya mimpi. Secuil kecil mimpi anak Indonesia penderita disleksia. Yang ingin membanggakan kedua orang tua, membanggakan bangsa ku, dan apakah hal itu salah?


Walaupun aku berkebutuhan, apakah menurutmu aku tak bisa seperti yang lain? Bukannya aku menyombongkan diri, tetapi kita kan sama-sama ciptaanNya, kita ada di satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki bahasa kesatuan yang sama. Indonesia. Dan, salahkah anak Indonesia sepertiku bermimpi?

Pernah suatu ketika, aku mencoba membuat sebuah cepen dan artikel tentang diriku di buku kecilku, tanpa sepengetahuan ayah dan ibu pastinya. Jika mereka mengetahuinya pasti aku dimarahi mereka karena aku tak boleh berpikir terlalu berat. Dengan sekuat tenaga aku berfikir setiap malam. Merasakan sakit kepala yang berkepanjangan. 5 hari berturut turut. Entah bagaimana, 10 hari setelah selesai, cerpen artikelku dimuat di salah satu redaksi ternama di Jakarta. Ternyata ayahlah yang mengirimkan karyaku tersebut tanpa sepengetahuanku.         .

Tetapi sayang, 2 hari sebelum keberangkatanku ke Filipina, suatu hal buruk menimpaku. Dokter memvonisku menderita kanker otak stadium akhir, ternyata itulah yang menyebabkan mengapa aku menderita disleksia akut serta merasakan sakit yang luar biasa setiap saat. Ya Allah, cobaan apalagi yang Engkau berikan ini? Aku masih ingin membanggakan orang tuaku, juga bangsaku. Aku mohon pada                                          Mu ya Allah.

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Filipina. Aku tak sendirian, Bersama ayah dan juga ibu serta para karyawan dari redaksi lain. Pukul 13.30 sesuai dengan jam Indonesia yang melingkar di pergelangan tanganku, pesawat landing di  Bandara Internasional Filipina. Tak lupa aku selalu mengucapkan pujii syukur kepada Allah, agar apapun yang akan aku jalani membawa berkah dan membanggakan serta bernilai positif.

Satu hari setelah aku sampai di Filipina, adalah hari dimana konferensi pers Asian dilaksanakan. Tepat di hari selasa, tanggal 28 Oktober 2014. Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda di Indonesia. Dan aku berharap, di tanggal baik ini aku bisa menjadi pemudi Indonesia yang membanggakan.

Perhelatan akbar telah selesai dilaksanakan. Aku tahu, semua masyarakat Indonesia menantiku. Menanti kabar apa saja yang akan aku ceritakan. Ayah juga bilang, sesampainya aku di Jakarta nanti, aku harus segera bertolak ke Istana Negara, untuk bertemu bapak Presiden Indonesia.

Pukul 08.00 pagi aku dan rombongan sampai di Jakarta. Aku dan juga ayah serta ibu segera mencari taksi untuk kutumpangi menuju istana negara. Namun, Allah berkehendak lain, saat diperjalanan tiba-tiba kepalaku merasa sakit yang tidak seperti biasanya. Aku menjerit kesakitan. Ayah dan ibu panik, segera aku dilarikan ke rumah sakit.


2 jam di rumah sakit tak membuatku sadar. Aku tahu, ayah dan ibu merasakan ke cemasan. Ya Allah, jika memang ini saatnya ku untuk pergi dari dunia ini aku ikhlas. ya Allah. Aku sudah tidak kuat merasakan sakit dalam hidupku ya Allah. Tapi izinkan aku memeluk dan mencium tangan ibu dan ayahku untuk terakhir kalinya.

Allah mengabulkan permintaanku. Aku tersadar hanya 5 menit saja dan aku meminta dokter memanggilkan ayah dan ibu. Sesampainya mereka ke tempatku aku berbicara kepada mereka “ibu.. ayah.. Rinta bangga jadi anak ibu dan ayah.. maafkan Rinta karena belum bisa jadi anak yang berbakti,  Rinta sayang ibu dan ayah“ aku mencium tangan ayah dan ibu, lalu memeluk keduanya sambil tersenyum bahagia. Kini malaikat maut telah mencabut nyawaku. Terdengar isak tangis yang begitu mendalam dari sanak saudaraku. Dan, aku meninggal dengan senyuman manis menempel di bibirku.

Terimakasih ya Allah. Engkau telah mengabulkan semua doaku. Engkau telah membuatku bisa membanggakan orangtuaku, juga tanah airku, di tengah keterbatasan yang Engkau berikan.

Semoga aku bisa menjadi contoh baik bagi semua pemuda dan pemudi  Indonesia. Yang selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan. Tak pernah putus asa dalam setiap cobaan. Dan bisa membanggakan tanah air Indonesia tercinta ini.


Bangun pemuda-pemudi Indonesia…
Lengan bajumu singsingkan, untuk negara…
Masa depan   Indonesia ada digenggamanmu…

Goreskan prestasimu untuk tanah air tercinta...
Jaya  pemuda Indonesia…

Jaya tanah air ku...

 

Tamat.

 

Diakses pada Rabu, 25 September 2019, pada pukul 08.00 WIB dari:

Curahanhatikonselor.blogspot.com

 

Upcoming Events

Semua Event